Menunda Kesenangan

Bagaimana cara sederhana untuk mengetahui potensi kesuksesan seseorang? Salah satu cara terbaik untuk mengetahui hal ini adalah dengan menguji kemampuan orang tersebut dalam menunda kesenangan (delay gratification). Mungkin Anda pernah mendengar eksperimen Marshmallow yang terkenal pada 1960-an, dilakukan oleh seorang psikolog terkenal dari Yale University, Walter Mischel, caranya beberapa anak ditaruh di dalam ruangan eksperimen.
Saat itu, berkotak-kotak marshmallow (sejenis permen) ditaruh di depan mereka. Anak ini dijanjikan akan diberikan marsmallow yang lebih banyak kalau mereka bisa menahan dirinya. Setelah itu, anak tersebut pun ditinggal.
Lantas, tanpa sepetahuan mereka, mereka pun mulai diawasi. Ternyata, ada beberapa anak yang tidak sanggup menahan diri untuk langsung memakan marshmallow di depan mereka.  Akhirnya, anak yang bisa menahan diripun mendapatkan marsmallow lebih banyak.
Penelitian tidak berakhir di situ. Anak-anak yang ikut dalam eksperimen ini pun terus dipantau hingga 14 tahun kemudian. Ternyata, ketika memasuki usia dewasa, terdapat perbedaan besar di antara mereka dalam hal studi dan karier mereka.
Anak-anak yang sanggup menahan diri ternyata lebih berhasil dalam studi mereka, dibandingkan dengan anak yang tidak sanggup menahan diri. Bukan itu saja. Anak yang mampu menunda kesenangan ini pun, menunjukkan sifat-sifat yang lebih positif, misalkan lebih optimistis, lebih kompeten, tidak mudah merasa iri hati, serta lebih mandiri. Kemampuan ini pun akhirnya sebenarnya bukan hanya bersifat mental, melainkan juga dapat dikaitkan dengan upaya kita untuk mengelola keuangan dan cara kita menjadi orang yang sukses secara finansial.

Pelajaran marsmallow test
Dengan mengacu kepada eksperimen Marsmallow, sebenarnya ada beberapa pelajaran penting terkait dengan manajemen keuangan yang efektif yang bisa kita petik. Minimal ada enam pelajaran penting yang bisa kita dapatkan. Pertama, pelajaran ”jangan habiskan sekarang. Tabunglah untuk besok”. Dalam marsmallow test tersebut, anak-anak yang bisa mengendalikan dan menahan dirinya, akhirnya bisa menikmati marsmallow yang lebih banyak setelah mereka sanggup menahan dirinya.
Hal ini menunjukkan kepada kita kenyataan banyaknya pekerja yang setelah bekerja sekian lama, masih tetap miskin dan tidak mampu memiliki apa pun dalam hidupnya dikarenakan semua uang yang mereka dapatkan, langsung habis dibelanjakan.
Kedua, pelajaran ”hindarilah permennya, kalau kamu tidak ingin tergoda”. Begitu pula, dalam manajemen keuangan. Ketika memang kita tidak punya uang dan tidak bisa membelanjakan banyak hal, sebaiknya kita menghindari diri dari tempat-tempat yang menggoda kita untuk mengeluarkan uang kita.
Ketiga, pelajaran ”tundalah dan nikmati kebahagiaan yang lebih besar”. Dalam eksperimen Marsmallow tersebut, beberapa anak bahkan hanya berani menggigit-gigit meja, dan menahan dirinya sampai jam eksperimennya selesai. Demikian pula, dalam manajemen keuangan. Pernahkah kita akhirnya memakan sesuatu yang masih panas karena tidak sanggup menahan godaan untuk menikmati makanan itu.
Akhirnya bukan saja tidak menikmati makanan tersebut, tetapi lidah dan mulut kita pun jadi terbakar gara-gara ketidakmampuan kita menahan diri. Dengan pelajaran ini, kita pun belajar bahwa dengan belajar kesanggupan menahan diri untuk tidak buru-buru mendapatkan apa yang kita inginkan, maka kita tidak akan ‘terbakar’ gara-gara kartu kredit ataupun utang yang menunggu dilunasi.
Keempat, pelajaran ”janganlah tergoda hanya karena yang lain tergoda”. Dalam eksperimen marsmallow ini, ada beberapa anak yang mungkin saja akan bisa bertahan kalau saja dia tidak terpengaruh oleh anak-anak yang langsung mengambil marsmallow tersebut. Begitu pula dalam manajemen keuangan kita.
Terkadang, sebenarnya kita sudah mampu mengendalikan dan mengelola diri dengan baik. Namun, justru godaan datang dan muncul dari teman-teman.Belajar untuk katakan, ”tidak” pada diri Anda sendiri dan teman Anda.
Kelima, pelajaran ”tahan diri sekarang untuk mendapatkan barang yang lebih baik”. Anak-anak yang di dalam eksperimen berusaha menahan diri, karena memikirkan akan mendapatkan marsmallow yang lebih baik. Pada akhir eksperimen, mereka betul-betul mendapatkan marsmallow yang lebih banyak.  Dalam hal ini, seorang peserta seminar saya mengatakan awalnya ia menginginkan membeli rumah tipe yang sangat kecil. Namun, akhirnya, ia menahan diri dan menabung lebih banyak lagi sehingga dapat membeli rumah yang ukurannya lebih sesuai dengan harapannya.
Keenam, pelajaran ”jangan berpikir kesempatan itu tidak pernah muncul lagi”. Banyak orang tergoda membeli barang dan berbelanja karena berpikir kesempatan itu tidak akan datang lagi ataupun berpikir, ”iya kalau betul-betul ada kesempatan menikmati marsmallow yang lebih banyak. Kalau tidak?”
Percayalah, kesempatan diskon dan peluang belanja akan selalu muncul lagi, meskipun dalam bentuk yang berbeda. Namun, jangan sampai kita tidak mempunyai uang sama sekali, saat kita betul-betul membutuhkannya oleh karena kita telah membelanjakannya untuk hal-hal yang ‘genting tapi tidak penting’.
Semoga tulisan ini membuat kita bukan hanya cerdas secara emosional, tetapi juga cerdas finansial.

Anthony Dio Martin Managing Director HR Excellency


Iklan
Categories: Pengembangan Diri | Tag: , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: