Mencicil Investasi, Bukan Mencicil Utang

Oleh: sapto nugroho hadi (Kaskus)

Sebagian dari kita ketika mendengar kata investasi, seringkali dengan spontan berkata, “Ah boro-boro berinvestasi, untuk pengeluaran sehari-hari saja masih pas-pasan…”. Yup, inilah jurus pamungkas yang seringkali keluar dari mulut kita ketika merespon ajakan orang untuk menabung atau investasi.

Masih banyak dari kita yang beranggapan bahwa investasi itu perlu modal yang besar. Jadi mana bisa kita yang berpenghasilan kecil ingin masuk ranah investasi. Mimpi kali ya…! Belum lagi investasi dianggap sebagai hal yang ribet dan memusingkan.

Sebenarnya ada tips agar kita tetap berinvestasi meskipun penghasilan kita pas-pasan, yaitu dengan mencicil. Asal konsisten, mencicil bisa menjadi solusi bagi kebutuhan investasi kita. Kenapa investasi dikatakan sebuah kebutuhan? Karena memang kita sangat memerlukanannya untuk menggapai harapan-harapan di masa depan. Kita tidak boleh lagi berpikir, hari ini ya hari ini, hari esok ya hari esok, ngapain mikirin hari esok pada hari ini. Biarlah hari esok kita hadapi di esok hari saja. Memangnya kita yakin kebutuhan hari esok akan sama dengan kebutuhan hari ini? Bagaimana dengan biaya pendidikan anak sekolah, biaya beli rumah, dll? Belum lagi, yakinkah kita akan selalu memiliki kesehatan prima hingga akhir hayat? Dan sejumlah pertanyaan lain yang menunjukkan bahwa investasi memang sangat kita butuhkan.

Taruhlah penghasilan kita memang benar-benar pas-pasan. Bagaimana bisa mencicil untuk asuransi? Anda tidak perlu gundah. Langkah pertama adalah lihat lagi apakah kita sudah benar-benar mengalokasikan penghasilan kita ke tempat yang sesuai? Apa tidak ada yang salah sasaran? Maksud salah sasaran adalah penghasilan kita diperuntukkan untuk pengeluaran yang bersifat kesenangan semata, misalkan jalan-jalan ke luar, membeli rokok, dll. Bagaimana mungkin kita mengutamakan pengeluaran yang bersifat sekunder bahkan mungkin tersier, sementara kebutuhan primer (investasi) kita abaikan? Bagaimana mungkin kita sanggup mengelurkan uang 10-20 ribu untuk membeli rokok yang jelas-jelas akan merusak kesehatan kita di masa depan, sementara untuk investasi yang akan bermanfaat bagi masa depan kita dan keluarga, kita merasa ogah-ogahan. Coba kalau separuh saja biaya untuk beli rokok dialokasikan untuk investasi, niscaya itu jauh lebih bermanfaat.

Untuk berinvestasi, kita bisa memulainya dari angka yang kita mampu dan tidak memberatkan. Misalnya setelah kita hitung ulang pengeluaran per bulan, ternyata ada uang sisa sebesar 5000 per hari. Maka jangan ragu, segera simpan uang tersebut di tempat yang aman, yang tidak diketahui orang lain. Anggap saja sebagai uang hilang. Kalau kita bisa menyimpan 5000 per hari, maka di akhir bulan kita bisa mengumpulkan 150 ribu rupiah. Jumlah yang sudah cukup untuk mulai berinvestasi. Dengan uang ini kita bisa mulai membuka tabungan di bank (jangan hanya menyimpan di rumah karena seringkali kita tergoda untuk memakainya. Kalau perlu minta jangan dibuatkan fasilitas ATM untuk mengurangi keinginan kita memakai uang investasi tersebut). Setelah jumlahnya mencukupi, kita bisa mulai membuka deposito (minimal 1 juta), membeli emas logam mulia (bisa per gram, harga sekarang sekitar 500 ribu), reksadana (minimal pembelian awal berkisar 1 juta, pembelian selanjutnya bisa 200-500 ribu), dsb. Jangan kita hanya puas menyimpan uang di bank, karena keuntungan yang kita peroleh sangat kecil bahkan cenderung terus dipotong untuk biaya administrasi, pajak, dll. Karena hal ini pakar investasi tidak menyebut menabung uang di bank sebagai salah satu bentuk investasi. Minimal kita membuka deposito (imbal bagi hasil sekitar 6%), reksadana (keuntungan sekitar 5-15%), emas (angka kenaikan harga per tahun berkisar 20%), dll.

Yang kita butuhkan dalam mencicil investasi adalah konsistensi. Jangan sampai melihat jumlah simpanan per bulan yang ternyata cukup lumayan, kita tergoda untuk menggunakannnya. Ubah mindset kita bahwa uang tersebut bukan uang kita lagi, melainkan uang yang sudah kita anggap hilang. Kalau sudah begitu kita tidak lagi memikirkannya.

Dengan mencicil investasi, kita telah melakukan sebuah kebaikan karena kita telah berupaya secara optimal untuk menyiapkan masa depan keluarga, agar jauh lebih baik. Bukannya ajaran agama kita juga melarang kita meninggalkan anak cucu kita dalam keadaan miskin? Karenanya ayo mulai mencicil investasi sekarang juga…!

Iklan
Categories: Bisnis, Pemasaran dan Asuransi | Tag: | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: