Soegija

image description

Reformasi 1998 masih belum murni berjalan dengan baik karena masih banyak praktek KKN di sana-sini. KKN yang hanya mementingkan diri sendiri dan golongannya, menancap kuat merusak moral bangsa. Situasi ini membuat Indonesia memerlukan ikon baru yang dapat menjadi simbol pengingat rasa nasionalisme bangsa Indonesia, contohnya adalah para pahlawan. Pahlawan yang mementingkan kepentingan bangsa dan rela mengalahkan kepentingan pribadinya bahkan rela mengorbankan dirinya.

 

Film ini berusaha hadir dengan memajukan tokoh Soegijapranata (Nirwan Dewanto) untuk menjadi salah satu ikon semangat nasionalisme pada bangsa Indonesia di tahun 1940-an. Tahun dimana Romo Kanjeng Mgr. Soegijapranata SJ berhasil melakukan diplomasi damai yang tegas untuk mengembangkan ke-Indonesia-an di pentas politik dunia internasional.

Ketika Romo Kanjeng (saat itu masih frater atau calon pastor) sedang belajar ilmu filsafat dan teologi di Belanda (1919-1928), para pemuda Indonesia di Belanda (Indische Vereeniging atau Perhimpunan India) juga sedang giat membantu perjuangan bangsa di tanah air. Sehingga tak ayal nurani kebangsaan Soegija ikut serta dalam perjuangan tersebut. Mereka merumuskan identitas mereka, walau sekolah di Belanda, hati tetap Indonesia.

Beberapa waktu setelah resmi ditahbiskan menjadi Uskup pribumi pertama di Indonesia pada 6 November 1940 di Gereja Randusari Semarang (sekarang Katedral Semarang), Jepang masuk ke Indonesia (1942) dan menyita semua aset nasional peninggalan Belanda. Mgr. Soegijapranata SJ dan seniornya Mgr. Willekens SJ berusaha tetap mempertahankannya. Hampir semua rohaniwan (imam, frater, bruder & suster) non-pribumi masuk penjara oleh Jepang, sehingga Romo Kanjeng yang asli keturunan Jawa lanjut berjuang bersama teman-teman pribumi lainnya.

Gereja Randusari Semarang juga sempat mau disita Jepang untuk dijadikan tangsi tentara Jepang, tapi Romo Kanjeng menolaknya dengan berkata “Ini adalah tempat yang suci. Saya tidak akan memberi izin. Penggal dahulu kepala saya, maka Tuan baru boleh memakainya. Gedung bioskop masih cukup luas. Tempatnya pasti juga strategis.”

Beredar kabar bahwa militer Jepang juga akan menjebak para pemuda nasionalis dan menghabisi mereka di Karang Tempel. Mgr. Soegijapranata berhasil meredam emosi Jepang dan menggagalkan aksi penyergapan itu dengan cara mempertemukan pemimpin militer Tentara Sekutu dengan komandan militer Jepang untuk menghentikan perang. Pertemuan berjalan lancar, Soegija berhasil “menyelamatkan” jiwa para pemuda pejuang Indonesia dan blokade jalan dapat dibuka kembali.

Selain mengangkat kisah sejarah politis, film juga menyentuh sisi kemanusiaan saat perang kemerdekaaan bangsa Indonesia (1940-1949). Kemanusiaan yang tak terkotak-kotakkan dan hancur terbawa oleh perang, kemanusiaan yang melintas suku bangsa, bahasa dan agama. Seperti yang dialami oleh Mariyem (Annisa Hertami) dan kakaknya Maryono (Abe). Ling Ling (Andrea Reva) yang terpisah dari ibunya (Olga Lydia). Juga dirasakan oleh Nobuzuki (Nobuyuki Suzuki), seorang tentara Jepang beragama Budha, yang tak pernah dapat menyakiti anak-anak karena teringat pada anaknya di Jepang. Robert (Wouter Zweers), tentara ‘mesin perang’ Belanda yang pada akhirnya luluh hatinya setelah menemukan bayi tak berdosa di medan perang dan membuat ia rindu kampungnya di Belanda. Juga rasa kemanusiaan yang terjadi pada Hendrick (Wouter Braaf) saat menemukan cinta tak sampainya.

Jika Bung Karno, Sang Proklamator, bergerak pada tataran politik praktis dalam tata pengelolaan negara dan pemerintahan, Romo Kanjeng bergerak menggelorakan semangat nasionalisme Indonesia melalui jalur diplomasi gerejani. Berkat Romo Kanjeng pula, Vatikan menjadi salah satu dari antara negara-negara pertama yang mengakui kemerdekaan RI. Soegija menyatukan kisah-kisah cinta keluarga besar kemanusiaan yang sudah terkoyak oleh kekerasan perang dan kematian. Barangkali karena tidak angkat senjata, sejarah dan profil Romo Kanjeng ini kurang menarik bagi para penulis sejarah.

Ada kaitan sejarah antara Romo Kanjeng Mgr. Albertus Soegijpranata SJ dengan Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahjono (IJ Kasimo), yaitu keduanya berkancah di Orde Lama tepatnya setelah Indonesia merdeka di 17 Agustus 1945. Romo Kanjeng dianugrahi gelar pahlawan nasional tahun 1963 oleh pemerintah Indonesia di bawah Presiden Soekarno, tepat 3 hari setelah Romo Kanjeng meninggal dunia di Belanda karena sakit. Sementara IJ Kasimo yang meninggal 1 Agustus 1986 malah baru mendapat gelar pahlawan tahun 2012.

Mereka berdua ternyata adalah anak didik dari Romo Van Lith SJ, misionaris Jesuit asal Belanda. Romo Van Lith SJ berkecimpung dalam dunia pendidikan Indonesia tepatnya di Muntilan Jateng, yaitu sebuah sekolah calon pastur (seminari) dan sekolah pendidikan guru. Soegija lahir dari Seminari Muntilan, menjadi Uskup pribumi pertama yang memimpin Vikariat Apostolik Semarang (Keuskupan Agung Semarang). sementara IJ Kasimo dari sekolah pendidikan calon guru Muntilan, akhirnya menjadi menteri dan pendiri Partai Katolik. Drs. Frans Seda, pernah duduk di jajaran kabinet era pemerintahan Presiden Soekarno, juga dari sekolah pendidikan calon guru Muntilan ini. Lihat begitu hebatnya tangan Romo Van Lith SJ hingga berhasil membawa 3 tokoh di sejarah politik Indonesia.

Soegija memanglah seorang pemimpin agama Katolik. Namun Soegija telah memperlihatkan bagaimana ia berani keluar dari pagar kekatolikannya dan berpikir untuk seluruh bangsa ini. “Di tengah-tengah situasi maraknya radikalisme agama-agama di negeri ini, film Soegija ini menyajikan figur agamawan yang berpikiran luas dan terbuka pada keberagaman bangsa Indonesia ini,” tulis Romo Murti Hadi SJ.

Maka film layar lebar yang sejatinya pernah mau diberi titel Silent Diplomacy ini mesti dilihat sebagai jendela untuk melihat sejarah masa lalu era tahun 1940-an. Soegija dengan slogan 100% Katolik & 100% Indonesia mengingatkan kita untuk tetap beriman pada agama masing-masing dan rela mendahulukan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi.

Garin Nugrogo sebagai sutradara mengatakan bahwa ini adalah film termahal yang pernah dikerjakannya mengingat harus mempersiapkan setting era 1940-an, menghadirkan orang Jepang dan Belanda asli untuk menjadi tokoh utamanya, serta harus melibatkan ratusan pemain Indonesia lainnya. Garin Nugroho yang kebetulan alumnus SMA Loyola Semarang namun beragama Islam ini pun memiliki persamaan visi akan pentingnya semangat dan gerakan multikulturalisme. Musisi Kua Etnika Djaduk Ferianto (putra seniman besar Bagong Kusudiardjo) pun diangkat menjadi arranger untuk ilustrasi musiknya.

“Kemanusiaan itu satu. Kendati berbeda bangsa, asal-usul dan ragamnya, berlainan bahasa dan adat istiadatnya, kemajuan dan cara hidupnya, semua merupakan satu keluarga besar. Satu keluarga besar, dimana anak-anak masa depan tidak lagi mendengar nyanyian berbau kekerasan, tidak menuliskan kata-kata bermandi darah, jangan lagi ada curiga, kebencian dan permusuhan,” seru Mgr. Soegijapranata SJ pada banyak kesempatan.

Jenis Film : Drama
Produser : Puskat Pictures Studio Audio Visual Puskat Yogyakarta
Sutradara : Garin Nugroho
Pemain : Margono, Eko Balung, Andrea Reva, Andreano Fidelis, Nirwan Dewanto, Anissa Hky, Wouter Braaf, Wouter Zweers, Butet Kartaredjasa, Olga Lydia, Henky Solaiman, Rukman Rosadi, Nobuyuki Suzuki

diambil dari : http://reviewfilmterbaru.com

Film ini dapat di nikmati di marsnet – JL Parangtritis Km 3.2 “Ruko Perwita Regency A26″ Yogyakarta

Iklan
Categories: Review Film | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: