Bisnis, Pemasaran dan Asuransi

Win Win Solution untuk negosiasi

negotiation

Negosiasi bukan hal baru dalam kehidupan. Karena kita hampir selalu melakukan negosiasi tanpa kita sadari. Nah jika kita melakukan negosiasi efektif maka kita akan mendapatkan solusi yang saling menguntungkan bagi kedua pihak. Namun sebelum kita melakukan negosiasi, maka ada baiknya kita mengenal dulu termasuk tipe apakah orang yang kita ajak negosiasi ini.

1. Listener

mereka ini biasanya selalu terbuka dengan semua masukan, lebih berempati dan people oriented. Untuk bernegosiasi dengan tipe orang seperti ini maka kita harus beramah tamah dulu dengannya. Bicarakan apa yang ada disekelilingnya dan apa yang menjadi kesenangannya. Setelah orang tipe ini nyaman dan mendapat perhatiannya maka kita mulai melakukan negosiasi. Jangan pernah mendesak orang Listener, karena kita akan mendapatkan kata TIDAK dengan segera. Mintalah bantuan padanya, karena orang Listener termasuk senang membantu dan selalu ingin terlibat dalam urusan orang lain. Tipe orang seperti ini sebenarnya lebih cocok untuk menjadi penengah dalam sebuah kelompok, karena mereka lebih mampu mendengarkan dan selalu berhati – hati dan mempertimbangkan keputusan yang akan dibuat.

 

2. Creator

orang seperti ini bisa kita lihat dari bersemangatnya dia, impulsive, sangat persuasif dan spontan. Saking spontannya maka dia dapat membuat keputusan langsung tanpa berpikir lama. Orang Creator ini mempunyai banyak ide, namun mudah lupa dengan ide yang dimilikinya. Jadi ketika kita negosiasi, jangan lupa untuk menuliskannya dan memberikan kepadanya sebagai pengingat. Orang creator juga seringnya keluar dari jalur di tengah negosiasi, apalagi jika dia terdesak, maka ia akan dengan mudah mengganti topic. Berhadapan dengan orang ini santai saja, karena semakin santai dan menyenangkan suatu negosiasi, maka akan semakin tertariklah orang Creator ini dengan negosiasi. Atau untuk menarik perhatiannya, cobalah untuk memberikan suatu kejutan saat bertemu dengannya. Namun usahakan jangan memberikan kejutan yang terlalu rutin untuknya karena orang Creator ini akan cepat bosan. Jika kita membahas suatu proyek dengan dia berikanlah gambaran besarnya terlebih dulu mengenai proyek tersebut, baru kemudian mengerucut ke hal detail. Ini dilakukan untuk membuat orang Creator ini senang dulu. Dan kalau sudah senang maka akan ada efek emosional disana yang akan membuatnya lebih impulsif.

 

3. Doer

tipenya akan sangat tegas, pragmatis, kompeten, tidak mau basa – basi, mendominasi percakapan dan langsung pada tujuan. Karena itu mereka cenderung menjadi pengambil keputusan. Sayangnya dia tidak terlalu percaya pada orang lain hingga jarang sekali mendelegasikan kepada anak buahnya. Ketika bernegosiasi dengan orang Doer, pastikan kita membawa semua data yang ada, karena orang Doer ini ingin yang langsung dan sekali jadi. Jika kita kehilangan satu momen yang dapat meyakinkan dia maka kesempatan untuk mendapatkan negosiasi akan hilang.

 

4. Thinker

tipe orang yang banyak berpikir, cenderung sangat detil bahkan mengarah perfeksionis. Dia menginginkan suatu kesepakatan yang sempurna, karenanya lama dalam membuat keputusan. Orang Thinker bukan seorang pengambil keputusan yang baik. Dia juga seorang yang analitis, cenderung terlalu serius dan kaku, karena taat dengan aturan yang ada. Untuk berhadapan dengan tipe ini kita harus membuat persiapan sematang mungkin, untuk menghadapi kedetilannya. Ketika menjelaskan harus langkah perlangkah. Orang Thinker akan termotivasi dengan akurasi, data dan logika. Tanpa itu semua maka dia tidak akan dapat membuat keputusan.

Advertisements
Categories: Bisnis, Pemasaran dan Asuransi | Tags: , | Leave a comment

The Truth About Selling

sales-image

1. Selling is a process
Seperti halnya aktifitas lain, penjualan adalah sebuah proses. Penjualan adalah mata rantai dari kegiatan-kegiatan lain. Jika Anda menjalankan rangkaian kegiatan dengan benar, atau jika Anda menjalankan setiap tahap dalam proses penjualan dengan benar, Anda memiliki kesempatan besar untuk dapat menjual dengan lebih baik.

2. Selling is a numbers game
Penjualan adalah permainan angka. Sebenarnya, penjualan didasarkan atas hukum rata-rata. Lebih banyak prospek, lebih besar kesempatan Anda. Lebih banyak pelanggan yang Anda temui, lebih besar peluang Anda. Lebih banyak Anda menawarkan, lebih besar kemungkinan Anda melakukan closing. Lebih banyak pelanggan bahagia yang Anda punya, lebih besar kesempatan bagi Anda untuk memperoleh referensi dari mereka. Ini hanya masalah “semakin banyak….semakin baik”.

3. Selling is all about having inter personal communication & relationship
Penjualan adalah masalah kemampuan komunikasi dan membina hubungan. Kita adalah makhluk sosial. Kita membuat keputusan lebih karena emosi dibandingkan rasional (Lihat “Marketing in Venus dari Hermawan Kartajaya). Mari lihat alasan-alasan seseorang menjadi nasabah sebuah perusahaan asuransi jiwa:

  1. Membeli karena perusahaannya 20%
  2. Membeli karena produknya 20%
  3. Membeli karena agen asuransinya 60%

Kesimpulannya, jadi atau tidak seseorang membeli dari Anda sangat tergantung dari apakah mereka suka atau tidak kepada Anda, menghargai Anda, mempercayai Anda, menyayangi Anda, merasa memiliki kewajiban membeli dari Anda (karena Anda begitu baik dan suka menolong, dia berhutang budi dengan Anda. Dia juga merupakan teman baik Anda atau ayah/suami Anda, dan lain-lain). Ini karena interaksi yang Anda bangun dan masalah komunikasi pribadi dengannya.

4. Selling is all about discipline.
Penjualan adalah masalah disiplin. Inilah perbedaan antara penjual sukses dan penjual yang tidak sukses.

Sudah bukan rahasia lagi, penjual yang sukses lebih disiplin dan mereka tetap mengerjakan hal-hal yang seharusnya mereka lakukan (walaupun mereka tidak menyukainya). Di sisi lain, penjual yang tidak sukses akan mencoba mencari 1001 alasan untuk menghindar dari pekerjaan yang seharusnya mereka lakukan, karena mereka tidak menyukai untuk mengerjakan hal tersebut.

Categories: Bisnis, Pemasaran dan Asuransi, Pengembangan Diri | Tags: , , , | 1 Comment

No Goals, No Target, No Results (Part 2)

tujuan-goal

Jakarta adalah kota macet! Rata-rata, seseorang membutuhkan 1–2 jam perjalanan dari rumah ke kantor mereka. Dan 1-2 jam perjalanan lagi untuk pulang ke rumah. Seorang teman bercerita kepada saya tentang insiden yang menimpanya. Rata-rata ia membutuhkan waktu 1,5 jam perjalanan dari kantor ke rumah. Sejak rumahnya terletak di “rute macet”, tidak ada suatu apa pun yang dapat ia lakukan. Jadi setiap hari, saat ia terjebak dalam kemacetan, ia selalu mendengarkan musik, radio, dan kaset-kaset motivasi. Dengan kata lain, ia menerima waktu 1,5 jam itu tanpa rasa kecewa dan amarah.

Tetapi, suatu hari, dalam perjalanan pulang, istrinya menelpon dan mengatakan bahwa anaknya yang berusia dua tahun terjatuh dan mengalami robek di dahinya. Dan sekarang sedang mengalami pendarahan hebat. “Pulanglah ke rumah secepat-cepatnya!” Suara tangisan anak kesayangannya terdengar di belakang telepon. Segera ia tancap gas dan mengambil sisi jalan, bergerak agak cepat…semua dilakukan hanya untuk sampai ke rumah dalam waktu sesingkat-singkatnya.

Akhirnya, ia sampai ke rumah. Dan ternyata, ia hanya menghabiskan waktu satu jam perjalanan dari kantor ke rumah! 30 menit lebih cepat dari biasanya! Istrinya sangat terkejut. “Bagaimana kamu bisa sampai ke rumah dalam tempo satu jam?” Ia menjawab, “Saya menerobos, menekan gas sedalam-dalamnya, mengambil jalan pintas, bergerak cepat… pokoknya apa pun yang dapat membuat saya lebih cepat!”
Jadi Apa yang Bisa Kita Pelajari?

Ketika Anda sudah memiliki tujuan yang jelas dan bisa memvisualisasi hasil akhirnya secara jelas, otomatis Anda akan memiliki tingkat KEPENTINGAN yang lebih kuat. Ketika kita ingin lebih cepat mencapai tujuan kita, secara otomatis kita akan menemukan jalan yang lebih baik dan lebih cepat untuk mencapai tujuan tersebut—dengan kata lain, kita akan mencapai sukses LEBIH CEPAT!

Bagaimana dengan Anda? Apa tujuan Anda? Dapatkan Anda menggambarkan HASIL AKHIR? Jika jawabannya “ya”, selamat! Anda akan mencapai tujuan Anda dan sukses lebih cepat dari kebanyakan orang. Jika jawabannya “tidak”, maka saya sarankan Anda untuk mulai menuliskan tujuan Anda. Anda akan membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk mencapai tujuan Anda! Mengapa Anda ingin MENYIA-NYIAKAN waktu dan hidup Anda.

 

Categories: Bisnis, Pemasaran dan Asuransi, Pengembangan Diri | Leave a comment

No Goals, No Target, No Results (part 1)

DART_BOARD

Setiap orang pasti ingin sukses. Namun, dalam kenyataannya tidak banyak orang yang bisa sukses seperti yang didambakan. Mengapa? Jawabannya sederhana: TIDAK PUNYA TUJUAN YANG JELAS.

Penelitian berkali-kali menunjukkan bahwa orang yang punya tujuan yang jelas (clear goals) akan lebih cepat sukses daripada mereka yang tidak memilikinya. Mengapa begitu?

Mengalahkan Juara Dunia dalam 10 Menit!

Brian Tracy, Sang Success Guru menjelaskan seperti ini. Tracy menjamin bahwa dalam 10 menit, ia dapat melatih Anda bagaimana cara melempar dart sebaik-baiknya sehingga Anda mampu mengalahkan juara dunia.
Bagaimana hal itu bisa terjadi? Inilah skenarionya. Ia akan mengumpulkan Anda berdua (Anda dan sang juara). Kemudian ia akan memberikan Anda papan dengan beberapa dart. Lalu Anda berdua diperintahkan untuk bersiap melempar dart ke papan tadi. Akan tetapi, sebelum sang juara beraksi, Tracy akan menutup mata sang juara, memutarnya beberapa kali sampai dia kehilangan arah. Anda, bagaimana pun tidak perlu memakai penutup mata dan dapat melihat papan dart di depan Anda sejelas-jelasnya. Sang juara tidak dapat melihat papan dart dan kini ia pun kehilangan arah. Ia tidak tahu di mana papan dart berada. Dalam situasi ini, Anda berdua di minta untuk melempar dart tersebut ke arah papan tadi.
Di antara Anda berdua, siapa yang akan menancapkan dart lebih banyak di papannya? Sang juara (yang matanya ditutup dan kehilangan arah) atau Anda (tidak memakai penutup mata dan dapat melihat papan dart dengan jelas)?
Tentu Ada akan tampil lebih baik dari pada sang juara? Mengapa? Karena Anda dapat melihat sasaran Anda (goal) dengan jelas. Sementara ia tidak. Hal ini sangat mudah, langsung mengena dan tepat! Dan yang mengherankan adalah meski setiap orang ingin mencapai sukses, namun hanya 3% dari populasi dunia yang benar-benar menuliskan, membaca, dan mengulang tujuan hidup mereka setiap hari!!
Do You Have A Dart Board?
Hampir seluruh penduduk bumi (97%) menghabiskan hidupnya tanpa tujuan yang jelas. Beberapa dari mereka begitu sibuk menggeluti pekerjaannya sehingga kehilangan pandangan dan tujuan. Mereka hanya melempar dart pada papan yang tidak ada! Benar-benar usaha yang sia-sia, menghabiskan waktu dan tenaga!
Bagaimana dengan Anda? Apa tujuan Anda? Apakah Anda punya tujuan yang jelas. Apakah Anda membaca dan mengulang tujuan-tujuan ini setiap hari untuk mengingatkan diri Anda. Jika jawabannya “ya”, selamat Anda sudah berada di jalan yang benar untuk mencapai sukses. Jika jawabannya “tidak”, maka saya sarankan Anda untuk segera menulis tujuan itu. Semua yang Anda butuhkan adalah menghabiskan cukup waktu sambil bertanya kepada diri Anda, “Apakah hal ini yang benar-benar ingin saya capai?” Kemudian tulislah SEGERA tujuan itu.

Categories: Bisnis, Pemasaran dan Asuransi, Pengembangan Diri | Tags: , , | Leave a comment

Menunda Investasi? Jadi Miskin Lho.. (1)

123investasi

Masih banyak orang yang berpikir, sebenarnya butuh nggak ya layanan atau jasa seorang Perencana Keuangan? Banyak juga orang yang kemudian berpikir bahwa mereka merasa tidak memerlukan jasa Perencanaan Keuangan.

Sebagian dari mereka mungkin berpikir bahwa mereka telah memiliki rumah, harta warisan yang belum dibagikan, tabungan pensiun dari kantor, asuransi dari kantor, Jamsostek dan lain-lain. Akan tetapi apakah pernah terpikirkan oleh mereka apabila dana-dana tersebut benar-benar cukup untuk memenuhi kebutuhan keuangan mereka? Pernah nggak sih dilakukan perhitungan secara detil?

Sebagai contoh untuk tabungan dana pensiun.yang didapatkan dari kantor dengan model Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK), Anda mungkin tidak pernah tahu berapa besar perhitungan dana pensiun yang akan diterima nantinya di masa pensiun (kecuali bisa dihitungkan).

Padahal apabila dihitung maksimum yang bisa diterima dari tabungan pensiun tersebut misalnya adalah sebesar Rp 5 juta per bulan, karena perhitungan maksimal Penghasilan Dasar Pensiun (PhDP) adalah sebesar Rp 5 juta per bulan apabila karyawan tersebut mendapatkan 100% dari formula tersebut, yang sudah barang tentu hanya akan didapatkan oleh top executive dari perusahaan.

Apa jadinya apabila mereka hanya seorang manajer menengah? Atau bahkan karyawan dan staff biasa saja.

Ini baru satu contoh saja dan kebetulan contohnya untuk investasi jangka panjang. Dan masih banyak rencana jangka panjang lainnya yang membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Nah, bayangkan apabila dari awal Anda sudah salah dalam menempatkan dana anda. Sebagai contoh, dana pensiun yang diperlukan 20-30 tahun lagi Anda tempatkan ke tabungan yang hanya memberikan rata-rata 2-5% bunga per tahun.

Kesalahan ini fatal, karena dengan rata-rata inflasi yang tinggi sementara bunga tabungan dana pensiun yang rendah menyebabkan Anda mungkin tidak bisa mencapai target dana pensiun yang Anda inginkan. Semakin fatal ketika Anda baru mengetahui ketika sudah terlanjur atau telat, misalkan sudah berjalan 5, 10 atau bahkan 15 tahun kemudian.

Seperti yang telah kita ketahui bersama, investasi khususnya di produk keuangan/pasar modal membutuhkan waktu yang cukup panjang dan dilakukan secara rutin agar investasi kita bisa berkembang.

Semakin dekat jarak waktu investasi kita, maka semakin besar dana yang harus dicicil setiap bulannya. Itulah sebabnya sangat penting untuk kita mulai melakukan perencanaan keuangan dan investasi dari sekarang, dan dilakukan dengan cara dan perhitungan yang benar.

Di tulisan edisi berikutnya akan saya berikan contoh perbedaan nominal ketika kita terlambat atau menunda melakukan perencanaan keuangan dan investasi.

sumber : http://finance.detik.com/read/2013/05/28/071518/2257533/722/menunda-investasi-jadi-miskin-lho–1-?f991104topnews

Categories: Bisnis, Pemasaran dan Asuransi, Pengembangan Diri | Leave a comment

4 Penyebab Gangguan Keuangan

dompet-kosong

Semakin hari tingkat kebutuhan gaya hidup semakin tinggi, dan masyarakat menjadi lebih konsumtif. Akibatnya, dana yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan tersebut jadi makin tinggi. Jika tak bisa memisahkan kebutuhan dengan keinginan, tak heran jika pengeluaran Anda jadi lebih besar daripada pendapatan.

“Masyarakat sekarang ini sulit memisahkan mana kebutuhan dan keinginan. Contohnya, ketika uangnya pas-pasan banyak pria yang lebih pilih beli rokok daripada beli makanan. Mending nggak makan daripada nggak ngerokok,” ungkap Hilda Fachriza, Kepala UKM Center dan staf pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, saat Diskusi Media “Ciptakan Kesempatan, Berdayakan Masyarakat, dan Perkecil Kesenjangan” di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Sedangkan perempuan, biasanya kesulitan menahan keinginan untuk berbelanja saat melihat berbagai produk fashion atau make-up terkini, apalagi jika sedang diskon besar-besaran. Padahal jika dicermati, semua ini hanya bertujuan untuk mengikuti gaya hidupnya.

Selain masalah konsumerisme yang cukup tinggi, Hilda juga mengungkapkan ada beberapa masalah keuangan yang dialami masyarakat terutama di kota besar, yaitu:

1. Tidak punya perencanaan
Setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, setiap orang seharusnya membutuhkan perencanaan keuangan yang baik. Sayangnya kebanyakan orang justru tidak melakukannya. Mereka cenderung berpikir pendek untuk mendapatkan kesenangan sesaat, dan menyesal di kemudian hari karena gaji mereka sudah habis untuk membeli barang-barang yang ternyata tidak diperlukan.

2. Sulit menabung
“Sebenarnya semua orang sudah sadar bahwa mereka harus menyisihkan uang untuk ditabung. Sayangnya, ini masih sangat sulit dilakukan,” tambahnya.

Hal ini terjadi karena saat mereka punya uang lebih, pasti langsung tergoda untuk membelanjakannya. Hilda menambahkan, masalah kesulitan menabung ini tidak cuma dialami oleh masyarakat kota besar saja, tapi juga kota kecil, terutama penduduk yang bermata pencaharian sebagai pemilik usaha kecil.

“Para pemilik UKM ini biasanya mengeluhkan pendapatannya yang juga kecil sehingga tidak punya uang untuk ditabung. Mereka masih punya pikiran bahwa menabung itu harus dalam jumlah yang besar sedangkan sisa uang mereka sedikit,” katanya.

3. Pendidikan keuangan
Konsumerisme dan perencanaan keuangan yang buruk merupakan salah satu dari kurangnya pendidikan keuangan di masyarakat. Padahal seharusnya pendidikan keuangan ini sudah diajarkan sejak dini. Tujuannya bukan untuk membuat Anda menjadi kaya raya, namun lebih kepada bagaimana cara mengelola keuangan untuk hidup sejahtera dan berkecukupan.

4. Tidak punya visi untuk masa depan
Setiap orang pasti memiliki banyak rencana untuk masa depannya, entah menikah, jalan-jalan keluar negeri, membangun usaha, membeli rumah, atau mungkin berinvestasi. Untuk melakukan semuanya ini dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Maka, ada baiknya untuk mulai menabung dan membuat impian Anda jadi nyata.

“Ketika mereka tidak punya mimpi dan visi di masa depan mau berbuat apa, sudah pasti mereka tidak juga memikirkan keuangan untuk kebutuhan masa depannya,” tutupnya.

Sumber

Categories: Bisnis, Pemasaran dan Asuransi | Tags: , , | Leave a comment

Belajar Menjual dari Bayi

steven

Kita hidup di dalam sebuah dunia yang penuh pertentangan. Oleh sebab itu, banyak dari kita yang bingung terhadap apa yang benar dan yang tidak, apa yang baik dilakukan dan apa yang tidak. Sebagai hasil dari kebingungan ini, banyak orang yang tidak mencapai kemampuan potensial mereka secara optimal.

Bila kita lihat bayi (kebetulan saya baru saja di anugrahi seorang keponakan oleh Tuhan) tiap dia menginginkan sesuatu dia akan meminta. Saat dia lapar dia akan meminta makan, saat popoknya basah dia akan minta agar segera di ganti, saat dia ingin di gendong maka dia akan meminta. Bayi-bayi ini akan meminta tanpa malu-malu  dengan tulus dan tanpa tipuan, dan yang paling istimewa adalah tidak ada seorang pun yang keberatan atas permintaan mereka.

Kadang kala, ibunya tidak mendengar, pura-pura tidak mendengar atau terlalu sibuk untuk selalu mengurus bayinya… Tidak apa-apa, bayi itu akan terus meminta sampai ibunya datang. Bayi tidak menjadi patah semangat. Ia tidak mengerti arti kata! Bayi tidak merasa malu, bahkan kata itu tidak ada dalam perbendaharaan katanya! Baginya, semua itu begitu alami… ia meminta sesuatu yang berhak diterimanya. Bagaimana lagi ia bisa mendapatkannya jika tidak meminta? Jika ibunya tidak datang, kemudian bayi akan terus meminta. Mungkin ayah, bibi, nenek, atau seseorang bakal datang.

Dalam dunia bayi, semua bersifat langsung apa adanya! Butuh sesuatu? Tinggal minta saja! Tidak ada orang yang mendengar atau peduli? Mintalah terus sampai muncul seseorang yang datang dan memperhatikan.

Sebagai seorang penjual banyak dari kita terkadang merasa malu, minder ataupun gengsi untuk meminta kepada calon customer. Terkadang kita malu untuk meminta waktu untuk temu janji, terkadang kita juga malu untuk meminta refrensi dari orang-orang disekitar kita. Tak heran banyak seorang penjual yang biasa-biasa saja. Saya sendiri terkadang masih memiliki rasa ini, oleh sebab itu mari kita belajar dari bayi 🙂

Ingat … Mintalah maka kamu akan diberi

Categories: Bisnis, Pemasaran dan Asuransi | Leave a comment

Tips Keluar Dari Jeratan Hutang Kartu Kredit

Fan of Visa Credit Cards

Dijaman yang modern ini penggunaan kartu kredit sudah sangat banyak, karena selain simple kita juga dapat membayar apa yang kita inginkan tanpa perlu langsung mengeluarkan uang (hutang). Namun tidak sedikit dari orang yang akhirnya terjebak dengan hutang kartu kredit ini. Nah berikut tips agar tidak terjerat hutang kartu kredit :

1. Hindari penggunaan kartu kredit untuk pembelian barang yang sifatnya kurang penting atau di penting pentingkan. Misal pembelian tablet terbaru dengan alasan agar kinerja kita semakin produktif.

2. Ketahui berapa besar utang anda. Sebagian dari kita terkadang tidak mengerti jumlah hutang kita sebenarnya di kartu kredit, sehingga ketika tagihan kita muncul maka respon kita stres dan tidak sedikit yang akhirnya hanya membayar bunga minimum nya. Apabila hal ini yang terjadi maka sebenarnya kita telah terjerat hutang kartu kredit.

3. Pilih hutang dari kartu kredit yang hendak anda lunasi. Anda bisa memulai melunasi yang bunganya paling besar atau melunasi kartu kredit dengan balance terkecil. Dari 2 cara ini sama sama baik asalkan anda berkomitmen untuk segera melunasinya.

4. Bayar hutang semaksimal mungkin sesuai dengan pilihan anda, kemudian untuk hutang yang lain bayarlah minimum payment nya saja.

5. Lakukan terus berulang ulang hingga hutang lunas terbayar. Kemudian lakukan juga untuk hutang yang lainnya.

Ingat kita harus terbebas dari hutang karena orang yang berhutang merupakan hamba dari orang yang menghutangi.

Categories: Bisnis, Pemasaran dan Asuransi, Pengembangan Diri | Tags: , , , , , , | Leave a comment

Mental Awal Memulai Bisnis

entrepreneur-001

Untuk memulai bisnis terkadang kita merasa kesusahan. Hal tersebut bisa di sebabkan beberapa faktor seperti perencanaan yang kurang matang, kurang nya modal, kurang nya pengalaman dll. Berikut langkah-langkah awal yang harus diperhatikan saat akan memulai bisnis :

1. Memulai dari perkara yang kecil

Setiap ide bisnis kemungkinan berupa ide yang besar dan terkadang membutuhkan modal yang besar juga. Untuk itu kita bisa memulainya dengan sesuatu yang lebih kecil. Misal pada saat kita ingin membuka toko accesories komputer, kita bisa memulainya dengan jualan online dahulu di kaskus dimana stok tidak harus banyak (bahkan terkadang tidak perlu stok) dan tidak membutuhkan biaya sewa toko. Bila kita ingin menjadi seorang penulis yang besar, kita bisa memulai terlebih dahulu dengan menulis blog seperti yang saya lakukan sekarang ini. Ingat bila kita tidak setia dengan perkara yang kecil, maka perkara yang besar tidak akan kita dapatkan.

2. Kerja Keras

Terkadang saat kita ingin memiliki bisnis kita berpikir bahwa nanti kita bisa santai dan semua nya sudah ada yang mengerjakan. Bila pemikiran seperti itu yang ada di benak kita maka sebaiknya kita jangan memulai bisnis. Bisnis akan dapat seperti apa yang kita pikirkan (time freedoom) apabila sudah jalan, sedangkan bila belum jalan maka kita harus lebih bekerja keras daripada bekerja ikut orang. Kita harus rela bekerja larut malam, bahkan di akhir pekan.

3. Milikilah Keyakinan Yang Kuat

Sebagai karyawan kita memiliki posisi aman akan tetap mendapatkan penghasilan setiap bulannya, sedangkan untuk pebisnis terkadang meskipun kita sudah bekerja keras kita tetap tidak memiliki jaminan penghasilan tiap bulannya. Oleh sebab itu kita harus memiliki keyakinan bahwa kerja keras kita kedepan akan mendapatkan hasil yang luar biasa. Ingat apa yang kita tabur itu yang kita tuai.

4. Menunda kesenangan

Apabila nantinya bisnis kita sudah terlihat hasilnya, jangan langsung meningkatkan gaya hidup. Sebaliknya tingkatkan gaya hidup sewajarnya dan gunakan keuntungan yang ada untuk membangun sebuah aset yang lain seperti property, saham, usaha baru, ataupun instrument investasi yang lain. Sehingga nantinya terbentuk saluran pemasukan yang lebih banyak.

5. Bersukacitalah

Nikmati setiap persoalan dan stress yang ditemui sebagai proses pendewasaan diri. Bila ada masalah segera selesaikan, bila ada masalah yang besar coba kecilkan masalah tersebut kemudian selesaikan.

6. Fokus yang benar

Dalam memulai usaha juga sebaiknya kita berfokus pada apa yang benar. Sebagai contoh saya sekarang yang bekerja sebagai agen asuransi (financial consultan) harus mementingkan kepentingan nasabah dari pada mengejar komisi. Sebagai pebisnis juga demikian kita harus berfokus pada kepentingan pelanggan dan berikan pelayanan yang terbaik. Nilai nilai positif yang kita berikan tersebut merupakan pupuk bagi bisnis kita untuk lebih berkembang. Semakin besar nilai positif yang kita berikan, makin cepat besar pula bisnis kita.

Categories: Bisnis, Pemasaran dan Asuransi | Tags: , , , , | Leave a comment

Beware !!! Undected Comfort Zone

great_work

Manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk merasa nyaman dengan hal-hal yang sudah biasa dilakukan. Rasa nyaman itu merupakan sesuatu yang menyenangkan, meski mungkin sebenarnya ada juga perasaan tidak puas. Namun banyak orang memilih untuk tetap diam didalam zona nyaman ( comfort Zone ) dan tidak bergerak maju ketimbang harus menghadapi kegelisahan dan ketidakpastian yang ada di luar zona tersebut.

Jim Collin mengatakan bahwa “Good is the enemy of great”. Menurutnya itu adalah salah satu alasan kita agak kita menjadi great didalam hidup kita. Seringkali kita merasa puas dengan sesuatu yang baik (good). Kita tidak memiliki sekolah yang hebat karena kita sudah berada di sekolah yang bagus. Hanya sedikit orang yang bisa mencapai sesuatu yang great karena sebagian dari mereka memilih jalan yang lebih mudah, yaitu berhenti pada sesuatu yang bagus. Dalam hal keuangan, masalahnya pun sama. Pekerjaan dan jabatan yang dirasa sudah baik, kepemilikan rumah dan mobil pribadi yang cukup akan membuat kita merasa nyaman dan berhenti bergerak maju. Saya sering sekali mengamati beberapa teman saya senang berada di dalam keadaan seperti ini. Meski pekerjaan yang di jalaninya membuat waktu bersama keluarga menjadi sedikit, meski lingkungan kerjanya keras dan saling sikut, meskipun di kantor tidak cocok dengan atasan, banyak dari mereka yang berusaha menutup mata dari semua kenyataan itu dengan berbagai macam alasan seperti “Gajinya besar”, “Kerja disini santai”, dll. Padahal sesungguhnya diluar sana masih banyak peluang lain yang sesungguhnya jauh lebih baik dan lebih nikmat dibanding zona nyaman yang mereka miliki.

Mungkin sebagian dari kita tidak sadar tekah kehilangan beberapa hal yang hebat karena sudah puas dengan apa yang ada di depan mata. Tapi dalam hal ini bukan maksud saya tidak bersyukur, namun sebenarnya ada banyak potensi didalam diri kita yang sebenarnya belum optimal. Dan dalam hal ini saya sedang berbicara tentang sesuatu yang bisa diraih setiap orang. Mencapai kehidupan yang lebih baik, mencapai kehidupan taraf keuangan yang lebih baik, mencapai kehidupan yang great bukan good.

Menjalani proses menuju pencapaian kehidupan keuangan yang great berarti Kita tidak boleh mudah berpuas diri. Kita tidak boleh terjebak didalam zona nyaman, dan kita harus tetap melangkah maju.

Saya sendiri sampai sekarang masih berjuang dengan proses ini. Saya berusaha mengevaluasi setiap kerja saya agar saya tidak terjebak dalam zona nyaman. Dan menurut saya ini tidaklah mudah namun karena keinginan saya untuk mencapai kebebasan financial di usia muda maka saya terus berjuang setiap hari untuk mengupgrade diri saya. Saya harap teman teman bisa terbebas dari zona nyaman dan mencapai kehidupan financial yang lebih baik.

GBU

Categories: Bisnis, Pemasaran dan Asuransi, Pengembangan Diri | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.